Makhluk Malam Dan Sebuah Penantian

laman ini berisikan beberapa susunan kata yang ditemukan Tugiez saat pertama kali ia merasakan sebuah kata yang disebut cinta. :-D, dan ini pertama kalinya puisi ada dalam otak Tugiez. karena sebelumnya Tugiez menganggap puisi adalah kumpulan kata bullshit dan melemahkan pemikiran. Tapi pandangan itu berubah drastis setelah Tugiez merasakan keindahan suatu kata. (ciaahhh...hehe, to twiiit...). Dan rangkaian kata adalah cara Tugiez mengasah suatu pemikiran,,(waduu..sok amat yaa...), wez gak muluk2,langsung saja....cekidot..:-D

Rindu Kelam
Kala daun berguguran
Menepis gundah, lahirkan asa
Menanti datangnya hujan
Tuk sebarkan benih ketulusan

Kala daun berguguran
Bukannya hujan datang
Melainkan kemarau panjang
Ranting pun patah berjatuhan

Kala daun berguguran
Rasakan kesunyian dalam penantian
Terselip secarik do`a dalam renungan
Jauh dari dalam masih tersimpan harapan

Langit menghitam mengabulkan do`a
Turunkan deras air ketulusan
Mengubah semua kegalauan
Terniang kemarau saat rindu teramat kelam 


TIDUR
Tidur tuk bermimpi
Bermimpi tuk menggapai cita
Tanpa cita asa kan melenyap
Dan cita dapat tergapai dengan cinta
Kemudian cinta yang menidurkan manusia

RASA
Adakalanya yang menangis adalah berbahagia
Adakalanya yang tertawa adalah terluka
Raut wajah bukanlah sebuah gambaran rasa
Ia menyelipkan jutaan rahasia di dalamnya

Seperti sebuah topeng
Menyembunyikan berbagai bentuk
Yang indah, yang buruk rupa
Tak satupun dapat dengan pasti
Menebak apa yang ada di dalam

Sebuah rasa hanyalah bergejolak di ruang semu
Tak bergerak, tak juga terdiam
Dan waktulah yang kan mampu
Menebak segala apa yang tersembunyi

RASA-2
Yang tak terduga dari yang diduga
Yang tak terlihat dari yang dilihat
Dan yang tak terasa dari yang dirasa
Hilang apa yang tlah terasa
Musnah apa yang tlah terdengar
Berganti oleh amarah
Mendengung dalam jiwa
Dalam kesibukan
Muncul yang tak terduga
Sebuah rasa dari yang tak terasa
Mengalir indah mengisi rongga
Kembali apa yang tlah hilang
Pergi apa yang tlah datang

Langit, Dengarkan Aku
Pada langit ku bicara
Sebuah hening yang slalu tercipta
Saat malam mulai menyapa

Pada langit ku bertanya
Adakah ia mendengar?
Sedang bintang halangi suara

Pada langit ku bercerita
Sebuah sinar yang sirnakan bulan
Jerumuskannya pada kegelapan
Dan mimpi kembali hilang


Gerimis Malam
Rintik air dinginkan malam
Hitamkan langit, sembunyi bulan
Selimut hati hangatkan  kisah
Terbangkan mimpi ke surga semu
Berikan jiwa hanya untukmu


Hujan Petir Di Malam Hari
Kenapa masih kuingat
Sesuatu yang seharusnya tak terlihat
Yang t’lah nyata pergi
Dan tinggalkan luka hati

Dalam hening malam
Selalu datang sebuah bayang
Senyumnya kacaukan pikiran
Seiring hujan petir yang menyambar
Di kegelapan malam

BADAI
Dusta ciptakan semu
Hening menyerap suara
Kaca-kaca berhamburan pecah
Oleh panas dari segumpal darah
Dalam rongga dada

Angin sepoi sejukkan jiwa
Namun juga buat api makin membesar
Hingga bakar rata hutan keindahan

Lantunan nada dari pulau seberang
Bisikkan syair nan indah
Seraya memanggil-manggil dari kejauhan

Sementara mendung pekatkan langit
Tanda bencana kan segera tiba
Ku dekap erat pohon kelapa
Saat tsunami tlah tiba
Dari lautan asmara
Yang menerjang sekencang-kencangnya
Dan meluluhlantakkan seluruh isi
Pulau kedamaian ini

SEJENAK
Sejenak lupa senyuman indah
Sejenak hilang bayangan semu
Angin pagi sejukkan jiwa
Alirkan nada, bersihlah semua
Gumpalan darah kembali cerah
Pun lara masihlah ada


Kembali Datang Risau Hati
Kembali Datang gelapnya malam
Ingatkan kembali yang tlah hilang
Temukan kembali yang tlah lupa
Nyamuk kecil  dendangkan lagu
Menambah keruh isi hati
Menambah pilu angan diri
Dan mereka kembali bersuara
Belumlah akhir debat nurani

Meski Hanya Mimpi
Semalam aku bermimpi
Tentang sejuta tawa
Ceritakan ribuan ilusi
Terbayangkan janji, tertempel di sudut hati
Semua terasa nyata dengan kehadiran bintang
namun musnah kala pagi beranjak
Dan tersadar hanyalah mimpi
Harapku semoga terulang kembali
Kisah indah di alam bintang
Hingga pagi kan abadi

Hapuskan Sesal
Sajadah putih, sucikan hati
Lembaran kelam tersimpan rapi
Dalam laci mereka sembunyi
Lantunkan syair hingga malam menepi
Entah, adakah esok masih terkunci?


Menunggumu, Butakan Logikaku
Sebatas mimpi, senyuman hati
Sedalam janji, ucapan jiwa
Semerdu azdan, nyanyian sendu
Setegar karang, sebuah penantian
Sesunyi malam, ratapan bintang
Hilangkan kesadaran
Hati yang t'lah lama padam

Cahaya Terima Kasih
Semoga tak terulang kembali
Malam di mana cahaya tak menerangi
Terkurung sunyi terhimpit kegelapan

Semoga tak pernah datang kembali
Sebuah rasa yang padamkan asa
Yang terunkan badai kehancuran
Menghancurankan segala rencana perjalanan

Dan semoga sedikit cahaya ini
Yang kau berikan kembali untukku
Akan terus berpijar dan tak  padam lagi

PANTASNYA
Lihatlah raga yang masih menanti
Senyuman indah di malam hari
Bukan mereka yang hanya melihat keindahan rembulan
Bukan pula yang berusaha memetik bintang

Ketulusanmu bukan untuk mereka
Yang memandang pernama atau bintang malam
Yang pergi saat sampai di rembulan
Atau yang terobsesi memetik bintang

Pantasnya senyuman itu untuk sebuah jiwa
Yang memberi tanpa harap kembali
Yang peduli tanpa menuntut simpati
Dan yang setia menanti saat kau pergi
  
PENANTIAN
Dalam penantian akan datangnya cahaya
Merasuk risau dalam jiwa
Bayang-bayang silih berganti melintas
Membingungkan angan yang melihat

Waktu melahap selaksa kenangan
Menggantinya dengan fatamorgana
Terdiam mata dalam kegundahan
Memandang langit penuh senyuman bintang

Kerisauan masih bergeming
Meracuni kalbu yang sedikit terlelap
Aku mulai merasakan lelah
Dalam menanti keindahan semu                      

Sebuah Kisah
Bila sendumu masih terpendam dalam angan
Dan tangis masih menetes dalam rongga jiwamu
Sungguh tak berdaya ku menatap lukamu
Yang tergores begitu dalam oleh egoku
Jika saja kau ijinkan ku tuk meminum air mata kepedihan dari gundahmu
Lalu ku usap lukamu dengan hitamnya lidahku
Agar hilang segala deritamu
Dan yang hanya terucap olehku
Hanya sebuah maaf yang terhalang egoku
Bunga itu yang menipuku
Tuk  menyeretmu masuk dalam surga semunya
Dan terjebak dalam kisahku yang juga hampa
Lalu tanpa kusadari
Ku menusukmu dengan duri racun dari raganya
Hingga tertancap begitu dalam di hatimu
Dan kini sudah terlalu lambat untukku mengakhiri semua
Karena lukamu terlanjur membeku oleh sang waktu
Dan membenamkan kita dalam pertempuran sunyi

Kepalsuan Cinta
Kepedihan akan indahnya ketulusan
Menghias singgasana cinta
Datang kisah lentera jiwa
Menyeret langkah jauh dalam mimpinya

Sampailah perahu dalam bahtera
Mencoba nikmati wangi surganya
Redupkan mata batin dalam angan

Angin sepoi merasuk kalbu
Mengitari langit keagungan kasih
Tidurkan diri dalam kenyamanan
Hilanglah jiwa dalam dunia semu

Kala terjaga badai datang
Menggelegar hentakkan jiwa
Rasuki kalbu dengan kegalauan

Senyuman palsu iringi badai kehancuran
Tenggelamkanku dalam kekecewaan
Mengusir jiwa dari surga semu
Hingga tercekik dalam keraguan
Di lautan asmara

KABUT
Bagai rembulan dikelilingi jutaan bintang
Sinarnya terangi bumi saat kegelapan datang
Menggantikan sang surya yang tidur tenang
Hingga esok kembali menjelang

Namun apalah diri ini
Yang hanyalah seonggok kabut
Menyelimuti sang rembulan,pekat
Halangi sinarnya terangi bumi

Kegelapan bumi rasakan
Dalam gelap mereka panjatkan
Do`a pada sang Kuasa agar kembali sinar
Agar senyum mereka ciptakan

Langit bergemuruh memberi jawaban
Maafkanlah kepekatan kabut yang kalian rasakan
Ia tulus berikan kebaikan
Hanya tuk selimuti rembulan
Dari dinginnya malam

Dalam hening kabut berucap maaf
Rembulan tersenyum bisiki bumi
Tak usah kau bersedih
Masih ada jutaan bintang yang kan terangi

Pesona Mimpi
Jika semua ini hanyalah sebuah mimpi,
Biarkan ku coba melawan
Ku tak sanggup lagi
Memegang semua janji

Aku tak mau terkurung
Dalam gelap malam ini
Ku harus bersiap melawan
Terik sang surya yang menyengat
Di esok hari

Langkahku tertahan gelimang bitang
Sinarnya membutakan logika
Sejenak kupejamkan mata
Gelap,yang datang hanya ilusi
Semua terlihat pasi
Tak ada yang cerahkan hati

Tak tau lagi di mana ku berada saat ini
Entah siapa yang kan menjawab
Saat kutanya tentang mimpi
Dan semua bintang temaram
Di mana kuterperosok dalam pesonanya
Aku takkan pernah mengerti
Yang kutahu pasti
Hanya Dia-lah yang menyinari hati
Dengan sinarnya yang takkan pernah padam

Bulan Purnama
Seterang purnama di malam ini
Sebuah angan dalam diri
Berikan cahaya sunyi
Dan segala impian tak pasti

Tak sanggup tangan tuk meraih
Hanyalah mampu tuk pandangi
Pun gelap akhirnya selimuti
Biarkan diri trus bermimpi

Gelap Malam
Satu persatu bintang malamku sirna
Oleh hempasan kegelapan
Aku berjalan disini
Tanpa satupun cahaya terangi

Terus berjalan tanpa satupun tujuan
Berharap pagi kan menjelang
Dengan membawa secercah sinar
Mentari harapan

Hingga ku terduduk disini
Penuh kebimbangan
dalam kegelapan malam

GALAUKU
Kulihat bintang menari
Dalam ruamg hampa di sana
Bisikkan syair nan pilu
Seolah ejek keraguan
Entah, apa yang mereka kata
Kosongku tiada duga
Tanpa tepi ku melangkah
Menyusuri daratan sendu
Hingga datang sesosok jiwa

Bayang-Angan
Secuil senyum yang kau berikan
Buatku terperosok jauh ke dalam
Sapamu yang menyejukkan
Terbangkan anganku ke awan
hingga ku tak tersadar
Kau t'lah hilang


UNTUKMU
Jika malam hidupkan bulan
Maka siang hidupkan surya
Jika hati ciptakan rasa
Maka lidah ciptakan kata
Jika kata tak mampu memberi isyarat
Maka waktulah yang kan menyurat

Masih Di Sini
Ku ucap salam, kau balas durka
Kenangan indah, kau buang sudah
Bisikan iblis butakan hati
Kecewa namun berada
Anganku masihlah dirimu
Meski yang ku tahu
Tak sedikitpun kau lihatku
Namun, ku masih disini untukmu

Rasaku Rasamu
Biar kutulis dalam lembar kalbu
Kumpulan cerita dari hati
Tiada orangkan dapat rasa
Melainkan dirimu yang kan merasa
Lidahmu terlihat palsu
Tak mengindahkan perih hatimu
Dan ku tau semua itu
Jauh di dalam kita masihlah bersatu
Tapi disana ada keegoisanmu
Yang membuatku terpuruk sunyi
Dengan menggenggam kenangan hati
Adakah begitu rasamu?

Jauh Di Dalam
Jauh di dalam...
Goresan rasa
Jutaan kata
Jauh di dalam...
Senandung jiwa
Tentang luka
Jauh di dalam...
Tak pernah bisa
Ku melupakannya

Kegelisahan
Kala senja tiba, gelap menghampiri
Tak ada teman, melainkan gemerlap bintang
Tak satupun dari mereka bisa tuk ku petik
Agar kujadikan sebagai teman dalam kesunyian
Namun, masih kuharap sang surya kembali datang
Menghapus kesunyian
Di esok hari nan terang

KATAK
Malam ini aku tak bisa tertidur
Meski lelap telah mengulur
Hujan lebat sirnakan cahaya
Basahi sema ranting yang patah

Nyanyian katak iringi pilu
Menari riang dentangkan lagu
Petir menyambar hancurkan angan
Tentang jiwa yang amat kurindukan

Belum berhenti katak bernyanyi
Meski hujan tlah berhenti
Mereka berpesta tanpa hiraukan
Suasana hati yang terus melayang
Seolah ejekku dalam kekacauan

HENING
Sehening malamku, Bayangan semu
Tiada terniang, derasnya hujan
Tak tersadar, bulan tlah hilang
Tinggallah malam, dentangkan kesepian

BINTANG
Kulihat kedip bintang
Saat malam menjelang
Bisikkan syair ketenangan
Namun, malam ini ia tak datang
Tuk menyapa kegelapan
Karena terhalang mendung kelam
Semoga esok kembali datang
Indahnya sinar
Temani sunyi malam

Semua Hilang
Ku langkahkan kaki
Menuju yang sunyi
Tersimpan segudang mimpi
Tersajikan yang tak pasti
Dan kulihat semua tlah pergi
Saat kau jauhkan diri
Juga rangkaian kata yang terkirim
Melangkah lari tinggalkan hati

Kacau Anganku
Hujan saat terik tadi
Kacaukan semua yang terjadi
Ku berjalan menyusuri ladang
Tuk hapus semua mimpi
Tapi adakah kau tau ?
Akankah dirimu merasa ?
Sebuah tonggak mematahkan kaki
Hingga terluka dan tak bisa digunakan lagi
Tuk berjalan menghapus laluku
Andai kau mampu obati
Hilanglah semua perih ini

SIGNAL
Bisikkan kata untukku
Jikalah memang masih kau simpan
Kirimkanku sebuah pertanda
Jika masihlah ada rasa
Heningmu masih tercipta
Yang kau kenakan masihlah arogansi
Dapatkah kau lepas itu ?
Karena hampir tak kuasa lagi
Menggenggam erat lembaran putih
Terkadang ingin ku robek lalu membakarnya
Agar  tak ada lagi angan jiwa
Agar tak ada lagi nyanyian sendu
Namun, hayalmu masih kuatkanku
Tuk simpan lembaran itu
Meski perih mengiris kalbu

JAWABKU
Terasa sunyi tanpa kata
Terasa rindu seuntai cinta
Mengapakah tiada berita

Karena jiwa tersapu lara
Tak mampu menahan lara
Terkapar sendiri dalam kesunyian

Yang ditunggu tiada datang jua
Yang dinanti hanya muncul bayangannya
Maafkanlah jika tak beri kabar
Ku sendiri terkubur dalam kegundahan

KENARI
Kenari kecil bersiul lirih
Menari-nari di pohon beringin
Meramalkan esok hari
Ceritakan badai lusa
Ia tak tersadar, hari kan berganti
Saat mentari tlah sembunyi
Hingga gelap  kan selimuti
Tetap melenggok di dahan kering
Hingga kenari tertindih sunyi

KAU
Harummu masih terasa
Candamu masih terdengar
Semua tentangmu masih lekat
Andai kau tau
Ku masihlah merangkak
Coba menepis laluku
Tinggalkan indahmu
Namun kau masih nyata
Dalam kalbu

Ada Yang Hilang Saat Ku Memberi
Kelinci putih meringkih lirih
Saat aku tak peduli
Matanya pancarkan sinar
Sinar yang buat mata pedulikan
Dan, musnahkan kebencian

Ia terus menatapku dengan binar
Matanya terus dan terus pancarkan
Hingga aku terhanyut dalam
Begitu dalam hingga ku tenggelam

Kuberikan wortel dari ladang hayal
Namun sayang, sebelum habis ia tinggalkan
Dan aku kehilangan

Melodi Hari  Ini
Kau menyegarkan meski hanya setetes senyum
Kau kenyangkan meski hanya secuil kata
Kau bangkitkan meski hanya segenggam rasa
Kau hilangkan yang menjadi dahaga
Kau bangkitkan apa yang tlah jatuh
Dan, hempaskan semua anganku

Melodi hari ini 2
Hari ini sungguh cerah
Secerah senyum yang tlah tercipta
Secerah mata yang pancarkan pesona
Entah berapa musim tlah berganti
Tiada yang seindah ini
Serasa melayang dalam hati
Meski memang berakhir sunyi
Dan ia kan kembali
Dalam perantauan hati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar