Rindu Kelam
Kala daun berguguran
Menepis gundah, lahirkan asa
Menanti datangnya hujan
Tuk sebarkan benih ketulusan
Kala daun berguguran
Bukannya hujan datang
Melainkan kemarau panjang
Ranting pun patah berjatuhan
Kala daun berguguran
Rasakan kesunyian dalam penantian
Terselip secarik do`a dalam renungan
Jauh dari dalam masih tersimpan harapan
Langit menghitam mengabulkan do`a
Turunkan deras air ketulusan
Mengubah semua kegalauan
Terniang kemarau saat rindu teramat kelam
TIDUR
Tidur tuk bermimpi
Bermimpi tuk
menggapai cita
Tanpa cita asa kan
melenyap
Dan cita dapat
tergapai dengan cinta
Kemudian cinta
yang menidurkan manusia
RASA
Adakalanya yang menangis adalah berbahagia
Adakalanya yang tertawa adalah terluka
Raut wajah bukanlah sebuah gambaran rasa
Ia menyelipkan jutaan rahasia di dalamnya
Seperti sebuah topeng
Menyembunyikan berbagai bentuk
Yang indah, yang buruk rupa
Tak satupun dapat dengan pasti
Menebak apa yang ada di dalam
Sebuah rasa hanyalah bergejolak di ruang semu
Tak bergerak, tak juga terdiam
Dan waktulah yang kan mampu
Menebak segala apa yang tersembunyi
RASA-2
Yang tak terduga dari yang diduga
Yang tak terlihat dari yang dilihat
Dan yang tak terasa dari yang dirasa
Hilang apa yang tlah terasa
Musnah apa yang tlah terdengar
Berganti oleh amarah
Mendengung dalam jiwa
Dalam kesibukan
Muncul yang tak terduga
Sebuah rasa dari yang tak terasa
Mengalir indah mengisi rongga
Kembali apa yang tlah hilang
Pergi apa yang tlah datang
Langit, Dengarkan Aku
Pada langit ku bicara
Sebuah hening yang slalu tercipta
Saat malam mulai menyapa
Pada langit ku bertanya
Adakah ia mendengar?
Sedang bintang halangi suara
Pada langit ku bercerita
Sebuah sinar yang sirnakan bulan
Jerumuskannya pada kegelapan
Dan mimpi kembali hilang
Gerimis Malam
Rintik air dinginkan malam
Hitamkan langit, sembunyi bulan
Selimut hati hangatkan kisah
Terbangkan mimpi ke surga semu
Berikan jiwa hanya untukmu
Hujan Petir Di Malam Hari
Kenapa masih kuingat
Sesuatu yang seharusnya tak terlihat
Yang t’lah nyata pergi
Dan tinggalkan luka hati
Dalam hening malam
Selalu datang sebuah bayang
Senyumnya kacaukan pikiran
Seiring hujan petir yang menyambar
Di kegelapan malam
BADAI
Dusta ciptakan semu
Hening menyerap suara
Kaca-kaca berhamburan pecah
Oleh panas dari segumpal darah
Dalam rongga dada
Angin sepoi sejukkan jiwa
Namun juga buat api makin membesar
Hingga bakar rata hutan keindahan
Lantunan nada dari pulau seberang
Bisikkan syair nan indah
Seraya memanggil-manggil dari kejauhan
Sementara mendung pekatkan langit
Tanda bencana kan segera tiba
Ku dekap erat pohon kelapa
Saat tsunami tlah tiba
Dari lautan asmara
Yang menerjang sekencang-kencangnya
Dan meluluhlantakkan seluruh isi
Pulau
kedamaian ini
SEJENAK
Sejenak lupa senyuman indah
Sejenak hilang bayangan semu
Angin pagi sejukkan jiwa
Alirkan nada, bersihlah semua
Gumpalan darah kembali cerah
Pun lara masihlah ada
Kembali Datang Risau Hati
Kembali Datang gelapnya malam
Ingatkan kembali yang tlah hilang
Temukan kembali yang tlah lupa
Nyamuk kecil
dendangkan lagu
Menambah keruh isi hati
Menambah pilu angan diri
Dan mereka kembali bersuara
Belumlah akhir debat nurani
Meski Hanya Mimpi
Semalam aku bermimpi
Tentang sejuta tawa
Ceritakan ribuan ilusi
Terbayangkan janji, tertempel di sudut hati
Semua terasa nyata dengan kehadiran bintang
namun musnah kala pagi beranjak
Dan tersadar hanyalah mimpi
Harapku semoga terulang kembali
Kisah indah di alam bintang
Hingga pagi kan abadi
Hapuskan Sesal
Sajadah putih, sucikan hati
Lembaran kelam tersimpan rapi
Dalam laci mereka sembunyi
Lantunkan syair hingga malam menepi
Entah, adakah esok masih terkunci?
Menunggumu, Butakan Logikaku
Sebatas mimpi, senyuman hati
Sedalam janji, ucapan jiwa
Semerdu azdan, nyanyian sendu
Setegar karang, sebuah penantian
Sesunyi malam, ratapan bintang
Hilangkan kesadaran
Hati yang t'lah lama padam
Cahaya Terima Kasih
Semoga tak terulang kembali
Malam di mana cahaya tak menerangi
Terkurung sunyi terhimpit kegelapan
Semoga tak pernah datang kembali
Sebuah rasa yang padamkan asa
Yang terunkan badai kehancuran
Menghancurankan segala rencana perjalanan
Dan semoga sedikit cahaya ini
Yang kau berikan kembali untukku
Akan terus berpijar dan tak padam lagi
PANTASNYA
Lihatlah raga yang masih menanti
Senyuman indah di malam hari
Bukan mereka yang hanya melihat keindahan rembulan
Bukan pula yang berusaha memetik bintang
Ketulusanmu bukan untuk mereka
Yang memandang pernama atau bintang malam
Yang pergi saat sampai di rembulan
Atau yang terobsesi memetik bintang
Pantasnya senyuman itu untuk sebuah jiwa
Yang memberi tanpa harap kembali
Yang peduli tanpa menuntut simpati
Dan yang setia menanti saat kau pergi
PENANTIAN
Dalam penantian akan datangnya cahaya
Merasuk risau dalam jiwa
Bayang-bayang silih berganti melintas
Membingungkan angan yang melihat
Waktu melahap selaksa kenangan
Menggantinya dengan fatamorgana
Terdiam mata dalam kegundahan
Memandang langit penuh senyuman bintang
Kerisauan masih bergeming
Meracuni kalbu
yang sedikit terlelap
Aku mulai
merasakan lelah
Sebuah Kisah
Bila sendumu masih terpendam dalam angan
Dan tangis masih menetes dalam rongga jiwamu
Sungguh tak berdaya ku menatap lukamu
Yang tergores begitu dalam oleh egoku
Jika saja kau ijinkan ku tuk meminum air mata
kepedihan dari gundahmu
Lalu ku usap lukamu dengan hitamnya lidahku
Agar hilang segala deritamu
Dan yang hanya terucap olehku
Hanya sebuah maaf yang terhalang egoku
Bunga itu yang menipuku
Tuk
menyeretmu masuk dalam surga semunya
Dan terjebak dalam kisahku yang juga hampa
Lalu tanpa kusadari
Ku menusukmu dengan duri racun dari raganya
Hingga tertancap begitu dalam di hatimu
Dan kini sudah terlalu lambat untukku
mengakhiri semua
Karena lukamu terlanjur membeku oleh sang
waktu
Dan membenamkan kita dalam pertempuran sunyi
Kepalsuan Cinta
Kepedihan akan indahnya ketulusan
Menghias singgasana cinta
Datang kisah lentera jiwa
Menyeret langkah jauh dalam mimpinya
Sampailah perahu dalam bahtera
Mencoba nikmati wangi surganya
Redupkan mata batin dalam angan
Angin sepoi merasuk kalbu
Mengitari langit keagungan kasih
Tidurkan diri dalam kenyamanan
Hilanglah jiwa dalam dunia semu
Kala terjaga badai datang
Menggelegar hentakkan jiwa
Rasuki kalbu dengan kegalauan
Senyuman palsu iringi badai kehancuran
Tenggelamkanku dalam kekecewaan
Mengusir jiwa dari surga semu
Hingga tercekik dalam keraguan
Di lautan asmara
KABUT
Bagai rembulan dikelilingi jutaan bintang
Sinarnya terangi bumi saat kegelapan datang
Menggantikan sang surya yang tidur tenang
Hingga esok kembali menjelang
Namun apalah diri ini
Yang hanyalah seonggok kabut
Menyelimuti sang rembulan,pekat
Halangi sinarnya terangi bumi
Kegelapan bumi rasakan
Dalam gelap mereka panjatkan
Do`a pada sang Kuasa agar kembali sinar
Agar senyum mereka ciptakan
Langit bergemuruh memberi jawaban
Maafkanlah kepekatan kabut yang kalian
rasakan
Ia tulus berikan kebaikan
Hanya tuk selimuti rembulan
Dari dinginnya malam
Dalam hening kabut berucap maaf
Rembulan tersenyum bisiki bumi
Tak usah kau bersedih
Masih ada jutaan bintang yang kan terangi
Pesona Mimpi
Jika semua ini hanyalah sebuah mimpi,
Biarkan ku coba melawan
Ku tak sanggup lagi
Memegang semua janji
Aku tak mau terkurung
Dalam gelap malam ini
Ku harus bersiap melawan
Terik sang surya yang menyengat
Di esok hari
Langkahku tertahan gelimang bitang
Sinarnya membutakan logika
Sejenak kupejamkan mata
Gelap,yang datang hanya ilusi
Semua terlihat pasi
Tak ada yang cerahkan hati
Tak tau lagi di mana ku berada saat ini
Entah siapa yang kan menjawab
Saat kutanya tentang mimpi
Dan semua bintang temaram
Di mana kuterperosok dalam pesonanya
Aku takkan pernah mengerti
Yang kutahu pasti
Hanya Dia-lah yang menyinari hati
Dengan sinarnya yang takkan pernah padam
Bulan Purnama
Seterang purnama di malam ini
Sebuah angan dalam diri
Berikan cahaya sunyi
Dan segala impian tak pasti
Tak sanggup tangan tuk meraih
Hanyalah mampu tuk pandangi
Pun gelap akhirnya selimuti
Biarkan diri
trus bermimpi
Gelap Malam
Satu persatu bintang malamku sirna
Oleh hempasan kegelapan
Aku berjalan disini
Tanpa satupun cahaya terangi
Terus berjalan tanpa satupun tujuan
Berharap pagi kan menjelang
Dengan membawa secercah sinar
Mentari harapan
Hingga ku terduduk disini
Penuh kebimbangan
dalam kegelapan malam
GALAUKU
Kulihat bintang menari
Dalam ruamg hampa di sana
Bisikkan syair nan pilu
Seolah ejek keraguan
Entah, apa yang mereka kata
Kosongku tiada duga
Tanpa tepi ku melangkah
Menyusuri daratan sendu
Hingga
datang sesosok jiwa
Bayang-Angan
Secuil senyum yang kau berikan
Buatku terperosok jauh ke dalam
Sapamu yang menyejukkan
Terbangkan anganku ke awan
hingga ku tak tersadar
Kau t'lah hilang
UNTUKMU
Jika malam hidupkan bulan
Maka siang hidupkan surya
Jika hati ciptakan rasa
Maka lidah ciptakan kata
Jika kata tak mampu memberi isyarat
Maka waktulah yang kan menyurat
Masih Di Sini
Ku ucap salam, kau balas durka
Kenangan indah, kau buang sudah
Bisikan iblis butakan hati
Kecewa namun berada
Anganku masihlah dirimu
Meski yang ku tahu
Tak sedikitpun kau lihatku
Namun, ku masih disini untukmu
Rasaku Rasamu
Biar kutulis dalam lembar kalbu
Kumpulan cerita dari hati
Tiada orangkan dapat rasa
Melainkan dirimu yang kan merasa
Lidahmu terlihat palsu
Tak mengindahkan perih hatimu
Dan ku tau semua itu
Jauh di dalam kita masihlah bersatu
Tapi disana ada keegoisanmu
Yang membuatku terpuruk sunyi
Dengan menggenggam kenangan hati
Adakah begitu rasamu?
Jauh Di Dalam
Jauh di dalam...
Goresan rasa
Jutaan kata
Jauh di dalam...
Senandung jiwa
Tentang luka
Jauh di dalam...
Tak pernah bisa
Ku melupakannya
Kegelisahan
Kala senja tiba, gelap menghampiri
Tak ada teman, melainkan gemerlap bintang
Tak satupun dari mereka bisa tuk ku petik
Agar kujadikan sebagai teman dalam kesunyian
Namun, masih kuharap sang surya kembali
datang
Menghapus kesunyian
Di esok hari nan terang
KATAK
Malam ini aku tak
bisa tertidur
Meski lelap telah
mengulur
Hujan lebat
sirnakan cahaya
Basahi sema
ranting yang patah
Nyanyian katak
iringi pilu
Menari riang
dentangkan lagu
Petir menyambar
hancurkan angan
Tentang jiwa yang
amat kurindukan
Belum berhenti
katak bernyanyi
Meski hujan tlah
berhenti
Mereka berpesta
tanpa hiraukan
Suasana hati yang
terus melayang
Seolah ejekku
dalam kekacauan
HENING
Sehening malamku,
Bayangan semu
Tiada terniang,
derasnya hujan
Tak tersadar,
bulan tlah hilang
Tinggallah malam,
dentangkan kesepian
BINTANG
Kulihat kedip
bintang
Saat malam
menjelang
Bisikkan syair
ketenangan
Namun, malam ini
ia tak datang
Tuk menyapa
kegelapan
Karena terhalang
mendung kelam
Semoga esok
kembali datang
Indahnya sinar
Temani sunyi malam
Semua Hilang
Ku langkahkan kaki
Menuju yang sunyi
Tersimpan segudang
mimpi
Tersajikan yang
tak pasti
Dan kulihat semua
tlah pergi
Saat kau jauhkan
diri
Juga rangkaian kata
yang terkirim
Melangkah lari
tinggalkan hati
Kacau Anganku
Hujan saat terik
tadi
Kacaukan semua
yang terjadi
Ku berjalan menyusuri
ladang
Tuk hapus semua
mimpi
Tapi adakah kau
tau ?
Akankah dirimu
merasa ?
Sebuah tonggak
mematahkan kaki
Hingga terluka dan
tak bisa digunakan lagi
Tuk berjalan
menghapus laluku
Andai kau mampu
obati
Hilanglah semua
perih ini
SIGNAL
Bisikkan kata
untukku
Jikalah memang
masih kau simpan
Kirimkanku sebuah
pertanda
Jika masihlah ada
rasa
Heningmu masih
tercipta
Yang kau kenakan
masihlah arogansi
Dapatkah kau lepas
itu ?
Karena hampir tak
kuasa lagi
Menggenggam erat
lembaran putih
Terkadang ingin ku
robek lalu membakarnya
Agar tak ada lagi angan jiwa
Agar tak ada lagi
nyanyian sendu
Namun, hayalmu
masih kuatkanku
Tuk simpan
lembaran itu
Meski perih
mengiris kalbu
JAWABKU
Terasa sunyi tanpa
kata
Terasa rindu
seuntai cinta
Mengapakah tiada
berita
Karena jiwa
tersapu lara
Tak mampu menahan
lara
Terkapar sendiri
dalam kesunyian
Yang ditunggu
tiada datang jua
Yang dinanti hanya
muncul bayangannya
Maafkanlah jika
tak beri kabar
Ku sendiri
terkubur dalam kegundahan
KENARI
Kenari kecil
bersiul lirih
Menari-nari di
pohon beringin
Meramalkan esok
hari
Ceritakan badai
lusa
Ia tak tersadar,
hari kan berganti
Saat mentari tlah
sembunyi
Hingga gelap kan selimuti
Tetap melenggok di
dahan kering
Hingga kenari
tertindih sunyi
KAU
Harummu masih
terasa
Candamu masih
terdengar
Semua tentangmu
masih lekat
Andai kau tau
Ku masihlah
merangkak
Coba menepis
laluku
Tinggalkan indahmu
Namun kau masih
nyata
Dalam kalbu
Ada Yang Hilang Saat Ku Memberi
Kelinci putih meringkih
lirih
Saat aku tak
peduli
Matanya pancarkan
sinar
Sinar yang buat
mata pedulikan
Dan, musnahkan
kebencian
Ia terus menatapku
dengan binar
Matanya terus dan
terus pancarkan
Hingga aku
terhanyut dalam
Begitu dalam
hingga ku tenggelam
Kuberikan wortel
dari ladang hayal
Namun sayang, sebelum
habis ia tinggalkan
Dan aku kehilangan
Melodi Hari Ini
Kau menyegarkan
meski hanya setetes senyum
Kau kenyangkan
meski hanya secuil kata
Kau bangkitkan
meski hanya segenggam rasa
Kau hilangkan yang
menjadi dahaga
Kau bangkitkan apa
yang tlah jatuh
Dan, hempaskan semua
anganku
Melodi hari ini 2
Hari ini sungguh
cerah
Secerah senyum
yang tlah tercipta
Secerah mata yang
pancarkan pesona
Entah berapa musim
tlah berganti
Tiada yang seindah
ini
Serasa melayang
dalam hati
Meski memang
berakhir sunyi
Dan ia kan kembali
Dalam perantauan
hati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar