Dalam
perenungan di sebuah tempat yang keruh oleh ilusi-ilusi. Kenyataan masa lalu
terkirim ulang oleh hembusan angin ketidaksengajaan. Antara ketulusan yang
mengirama dengan kebencian yang tersembunyi oleh waktu, tak sedikitpun dapat
terbedakan, karena batas-batas pemisah antara keduanya telah tercabut oleh
senyuman hangat yang selalu sama dan berulang.
Kenyataan
masa kini yang bias akan cahaya-cahaya kepalsuan, semakin merebak dalam jiwa
yang haus akan kesejatian. Dan harapan akan datangnya pemikiran yang jernih
tentang sebuah ilusi yang kotor semakin menjauh menuju kegelapan malam. Pedang
tajam yang seharusnya menjadi pemisah antara keaslian dan kepalsuan pun patah
tak berbentuk, hancur tergilas sang waktu.
Sementara
dendangan musik kepedihan yang terbungkus oleh keceriaan yang dibuat-buat
semakin menggila. Alunan pemujaan terhadap ilusi bintang-bintang malam semakin
hari semakin keras diperdengarkan. Bulan yang dulu menyimpan cahaya terang,
seakan redup karena tergilas tawa bintang yang penuh kepalsuan. Dan kini
menjauhlah jiwa-jiwa kosong dari cahaya yang sejati.
Mata
yang semakin buta akan gemilangnya cahaya palsu nan terang, mengacaukan tatanan
kesejatian jiwa yang selalu menuntun mereka saat kegelapan tiba. Tak sedikit
diantaranya yang terjebak dalam gua indah yang penuh akan kedustaan ilusi. Dan
saat terkurung dalam gua, akan semakin sulit melawan segala ilusi khayal yang
di dalamnya tertanam kepedihan yang tersembunyi dalam bingkai keegoisan.
Mungkin
di masa ini, tawa penghinaan dari makhluk penyesat semakin riuh terdengar oleh
hati yang masih menyimpan sedikit cahaya Ilahi. Mereka seakan berpesta
merayakan kemenangan ilusi cahaya hitam. Tak berhenti sampai di situ,
malam-malam pun tlah mereka penuhi dengan kekhawatiran yang tertutupi oleh senyuman
palsu. Dan serpihan pedang pemisah yang kemarin tergilas waktu tlah mereka
buang dalam jurang kesunyian yang teramat dalam.
Nurani
yang masih mampu berpikir jernih tentang ilusi, selalu mencoba meraih dan
menemukan pedang pemisah itu. Memang sangat sulit dan terasa sangat mustahil.
Namun, dengan keyakinan yang kuat akan
datangnya keajaiban menyertai perjalanannya mengarungi jurang kesunyian. Mereka
mendaki terjalnya gunung keangkuhan, menuruni jurang kesunyian yang di
dalammnya terdapat banyak sekali jebakan yang mungkin bisa saja menghanyutkan
mereka dalam lembah keputusasaan. Bertahun-tahun mereka bertapa merenungi
penciptaan atas dirinya. Memohon pada Sang Pencipta agar segera ditemukan jalan
yang mengantarkannya temukan pedang pemisah yang hilang terbuang di masa silam.
Akhirnya
nurani yang berjuang keras, tlah menemukan apa yang mereka cari. Dan waktu pun
ikut tersenyum haru melihat wajah nurani yang terlihat cerah.Namun setelah
beberapa detik berlalu dari tempat kesunyian, mendung kembali menyelimuti
nurani. Potongan pedang pemisah sudah hanya tinggal sebesar genggaman saja.
Sementara yang lain entah kemana. Langit pun turut menangis melihat kesedihan
nurani. Petir-petir menyambar mengikuti irama kepiluan, mereka menggelegar
mencoba menerka jawaban atas perenungan. Sapuan angin semakin kencang menyeret
puing-puing kegalauan. Dan semua itu terhenti begitu pelangi muncul memberikan
harapan akan datangnya jawaban tentang tanya malam. Alam pun kembali
menyuarakan ketenangan yang mungkin hanyalah sesaat. Kini potongan pedang
pemisah yang tumpul dan tak berbentuk kembali diperbaiki oleh para penganut
nurani dari Sang Ilahi. Mereka terus-menerus mengasah hingga tajamnya kembali
bisa memisahkan antara kepalsuan dan keaslian, antara ketulusan dan kebencian.
Di
tempat lain yang penuh dengan ritual pemujaan terhadap ilusi cahaya, dentangan
syair kegelisahan mulai dirasakan oleh sebagian jiwa yang di dalamnya terdapat
dua kubu yang saling bertentangan. Dalam diri mereka mulai timbul konflik,
antara yang ingin tetap memuja ilusi yang terbungkus keindahan dengan yang
ingin segera menemukan kesejatian lantunan keaslian nurani. Konflik jiwa yang
semakin bergejolak dengan munculnya provokator dari banyak pihak yang saling
berseberangan membuat suasana semakin memanas. Perang argumentasi seakan tak
pernah berujung. Di tengah keadaan yang penuh kerusuhan dan kebimbangan yang
menggelora, suara-suara kegalauan yang menyesatkan muncul sebagai pahlawan
terselubung. Perang pun memuncak hingga memunculkan dualisme dalam diri mereka
yang terlanjur terjebak dalam gua ilusi tersebut.
Kaum
minoritas dalam peperangan tak berkesudahan di wilayah rongga dada dari
jiwa-jiwa yang tersesat ini, sepertinya telah tersudutkan oleh serangan
gabungan dari pihak yang memuja ilusi. Lalu mereka bersembunyi di balik sinar
abadi yang hanya dimiliki Zat Maha Agung di sana.Namun bagaimanapun juga,
kekhawatiran pun tetap muncul beriringan dengan persediaan senjata yang mulai
menipis. Sementara kekuatan di pihak pemuja ilusi semakin besar dengan bergabungnya
ribuan pasukan makhluk penyesat. Kondisi yang membuat pasukan pro nurani
semakin tak kuasa menahan kedatangan rasa khawatir yang mulai membesar dalam
jiwa mereka.
Dalam
kondisi yang keruh ini, para pembela kesejatian nurani mulai terlihat dari
kejauhan dengan membawa pedang pemisah yang baru saja mereka temukan.
Panji-panji keaslian mulai dikobarkan di dalam tubuh yang di dalamnya penuh
konflik ini. Kaum minoritas yang sebelumnya dihinggapi kekhawatiran yang luar
biasa, mulai berani muncul dari persembunyian. Kekuatan kembali berimbang
antara kedua belah pihak.
Babak
baru pun telah dimulai. Sang waktu bertindak sebagai pengadil dan juga saksi
abstrak dalam pertempuran ini. Kekacauan dalam tubuh semakin parah dan
menimbulkan penyakit kemalasan yang amat memilukan sendi-sendi kehidupan
organisme yang hidup di dalamnya. Pergolakan jiwa yang tak terhindari
mengakibatkan kerusakan pada mekanisme dalam tubuh yang sebelumnya tenteram
dengan keramahan yang terlindung oleh keaslian. Kaum minoritas yang pro nurani
belum juga mampu mengalahkan para pemuja ilusi, keselamatan seluruh rakyat
dalam tubuh yang ada dalam genggaman kaum pro nurani pun semakin terancam.
Dalam
ketidakpastian yang tlah lama menghantui sendi-sendi ketentraman dalam jiwa
ini, muncul cahaya terang dari balik gelapnya kehampaan. Angin kedamaian meniup
sepoi-sepoi menyejukkan mereka yang mulai yakin akan datangnya kesejatian.
Kepalsuan cahaya ilusi pun agak sedikit
meredup menuju persemayaman. Pasukan pro nurani yang tlah menemukan senjatanya
memaksa para pemuja ilusi untuk mundur dan mengangkat bendera putih. Namun,
kegigihan suara penyesat tak lantas hilang begitu saja. Mereka semakin gencar
membalas serangan pasukan nurani dengan mengumandangkan bisikan syair kusam
yang terbungkus keindahan.
Alunan-alunan
kepalsuan menolak untuk menyerah begitu saja. Mereka pun terbangun dan
menemukan senjata baru tuk membujuk jiwa-jiwa yang masih kosong. Pasukan pemuja
ilusi bertambah banyak dari sebelumnya. Mereka tak gentar sedikitpun dengan
benteng iluusinya yang semakin membesar. Begitu pula dilakukan para pasukan pro
nurani yang penuh keyakinan setelah keterpurukan mereka kemarin. Mereka
bergerak dengan iringan lagu harmoni dari Sang Pemilik Suara yang menyerukan
kedamaian sesungguhnya. Malaikat pembimbing memimpin mereka dalam pertempuran
yang seakan tak berujung ini. Dan memanglah benar, keaslian dan kepalsuan akan
terus bertempur mengisi waktu hingga kelak jiwa dan nafas dalam tubuh itu
dipanggil oleh-NYA. Sehingga medan tempur mereka tlah musnah termakan cacing
dalam tanah. Dan penentuan tentang pemenangnya akan dilaksanakan di peradilan
yang Maha Adil. Yang kebenaran haqiqi adalah menjadi acuan dalam penetapanNYA.
Tanpa intrik, ataupun semua kekotoran lainnya. Sehingga keaslian dan kepalsuan
terpisah oleh alam yang berbeda, surga dan neraka.
-Rizky-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar